Just another website
Indeks
Islami  

China Ungkap Serangan Siber AS hingga Cara Baru Ransomware

https: img.okezone.com content 2022 10 01 54 2678905 populer-telco-china-ungkap-serangan-siber-as-hingga-cara-baru-ransomware-gnPY6So1wR.jpg

JAKARTA – Terdapat artikel kanal Telco Okezone yang banyak dibaca oleh warganet. Dan yang terpopuler sepekan terakhir, mulai dari “China Ungkap Serangan Siber AS” hingga “Cara Baru Ransomware.”

China Ungkap Bukti Baru Ribuan Serangan Siber AS ke Universitas

China merilis laporan investigasi baru yang mengungkap bukti tambahan di mana menunjukkan Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) Amerika Serikat (AS) diduga berada di balik “ribuan serangan siber” terhadap sebuah universitas Negeri Tirai Bambu.

Xinhua melaporkan, lewat dukungan teknis dari sejumlah negara Eropa dan Asia Tenggara, para pakar China berhasil menelusuri kembali fitur teknis, senjata serangan, dan jalur yang digunakan dalam serangan siber terhadap Northwestern Polytechnical University China.

Baca selengkpanya.

Mengenal Kelompok Hacker Lapsus$, Pembobol Data GTA VI

Kelompok hacker Lapsus$ menjadi sorotan dunia setelah berhasil membobol data Grand Theft Auto (GTA) VI. Berkat aksinya itu, rahasia besar dari game fenomenal tersebut bocor sehingga tidak ada lagi kejutan.

Lantas sebenarnya siapakah kelompok hacker Lapsus$ itu? Sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber, penjelasannya berikut ini.

Baca selengkapnya.

Hacker Bjorka Kembali Beraksi, Kini Korbannya Kepala BSSN

Peretas (hacker) Bjorka kembali beraksi, kini tergetnya adalah Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Hinsan Siburian, setelah sempat mengilang beberapa saat.

Diketahui, Bjorka menyebarkan data pribadi (doxing) Kepala BSSN Hinsan Siburian lewat akun Telegram-nya dan unggahan di situs BreachForums.

Baca selengkapnya.

Sejumlah Hacker Uji Cara Baru Serangan Ransomware Jadi Lebih Sadis

Sejumlah hacker dilaporkan tengah bereksperimen dalam melancarkan serangan ransomware dengan jenis serangan baru. Alih-alih mengenkripsi data seperti yang biasa dilakukan, mereka justru menghancurkannya.

Dikutip dari ZDNET, Rabu (28/9/2022), Tujuanya adalah untuk membuat korban tidak dapat lagi mengambil data mereka jika mereka tidak membayar uang tebusan. Metode penahanan datanya sebenarnya sama dengan sebelumnya, hanya saja lebih sadis.

Baca selengkapnya.

(amj)

Sumber: techno.okezone.com